Tiga tahun setelah Amerika Serikat meluncurkan sebuah inisiatif untuk menata ulang hubungan dengan Rusia, kedua belah pihak masih berselisih menyangkut sejumlah isu lebih dari yang mereka sepakati, dan mengarah pada era Perang Dingin.
Tombol “reset” hubungan kedua adidaya itu secara simbolis ditekan pada tahun 2009, tak lama setelah Presiden Barack Obama dan Dmitry Medvedev terpilih sebagai pemimpin. Namun, Rusia dan AS kerap mengeluarkan komentar-komentar yang memicu ketegangan hubungan kedua pihak.
Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin menuduh Washington mencoba untuk melemahkan Moskow dan menciptakan kekacauan di negara-negara bekas Uni Soviet. Selama ini, Putin dikenal sebagai pengkritik keras AS. Sementara rekannya, Medvedev mengatakan bahwa Rusia akan menargetkan sistem rudal AS di Eropa jika Washington dan NATO gagal untuk mencapai kesepakatan dengan Moskow tentang pembangunan dan pengoperasian sistem tersebut.
Sejak proposal perisai rudal diluncurkan, Moskow telah berulang kali menyatakan keprihatinan atas sistem itu dan menilainya sebagai ancaman atas kepentingan strategis Rusia. Medvedev juga memperingatkan bahwa Rusia bisa keluar dari Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (START II) dengan AS, jika Washington tidak mengindahkan tuntutan Moskow.
Akan tetapi, mungkin indikator yang paling jelas dari Perang Dingin baru antara AS dan Rusia adalah friksi mereka menyangkut masalah Suriah. Pada tanggal 4 Februari, Rusia dan Cina memveto resolusi rekayasa AS di Dewan Keamanan PBB, yang menyerukan pengunduran diri Presiden Suriah Bashar al-Assad. Rusia dan Cina mengatakan resolusi itu akan menjadi pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.
Kemitraan strategis antara Moskow dan Damaskus telah mendorong Rusia untuk tegas menentang setiap intervensi internasional di Suriah. Kemitraan antara kedua belah pihak kembali ke era Perang Dingin, ketika Hafez al-Assad memimpin Suriah.
Di sisi lain, AS telah meluncurkan misi untuk menggulingkan pemerintah Bashar al-Assad. Sejak awal Kebangkitan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara, AS memusatkan perhatian pada Suriah dengan mengabaikan raja-raja tiran, yang secara brutal menumpas demonstran pro-demokrasi di negara-negara seperti Bahrain dan Arab Saudi.
Tidak seperti Perang Dingin era Uni Soviet, di mana AS masih kuat dari segi ekonomi, kali ini kondisi Cina dan Rusia tampak lebih baik. Kedua negara komunis ini sekarang memainkan peran yang menentukan dalam babak baru Perang Dingin.
Sebelum memveto resolusi anti-Suriah, Cina telah menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB hanya enam kali dan sebagian besar terkait isu-isu yang langsung mempengaruhi Cina atau negara-negara tetangga di Asia. Keputusan Cina untuk memveto dua resolusi anti-Suriah lebih merupakan sinyal dukungan bagi Rusia meski Moskow dengan sendirinya dapat mencegah manuver-manuver terhadap Damaskus.
Sebagian besar analis politik sepakat bahwa keseimbangan kekuatan global bergerak ke arah timur. Sebuah negara adikuasa baru secara efektif berpihak pada Rusia. (IRIB Indonesia/RM)
sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar